Resume Materi Seminar NCOINS 2020

Mengintegrasikan Warisan Budaya Indonesia dan Nilai Religius untuk Pemberdayaan Nasionalisme melalui Pendidikan Sains untuk Pembangunan Berkelanjutan (SESD) 
Narasumber : BU Ulya Fawaida, M.Pd.

Sikap Nasionalisme bangsa Indonesia, yang berkaitan dengan Pendidikan Sains untuk Pembangunan Berkelanjutan yaitu dengan menerapkan Bahasa Indonesia sebagao warisan budaya dan menerapkan nilai religious antar umat beragama. Sehingga dapat menciptakan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan dan Kurikulum Pendidikan Nasional Indonesia (NECI) yang berefek pada pendidikan sains untuk pembangunan berkelanjutan.

Nasionalisme di NECI meliputi:

  1. Aturan sekolah dan tradisi
  2. Kewarganegaraan
  3. NECI yang terdiri dari pendidikan karakter, dan nasionalisme.

Manfaat dari Pendidikan sains yaitu mempersiapkan siswa untuk berkarir atau menyindir siswa dengan pengetahuan praktis tentang cara kerja sesuatu. Membangun literasi sains siswa dan mengembangkan keterampilan siswa dalam berpikir ilmiah.

Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan, meliputi:

  1. Orientasi pembangunan berkelanjutan tertuang dalam Agenda 21, yang diselenggarakan oleh United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) di Rio de Janeiro, Brazil pada tahun 1992
  2. ESD telah diterima sebagai tujuan global dalam kebijakan pendidikan.
  3. Untuk berkontribusi pada pendidikan yang memungkinkan generasi muda menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan mempromosikan pembangunan berkelanjutan di dunia kita

Pembangunan berkelanjutan meliputi beberapa bidang:

  1. Ekonomis, yang terdiri dari:

-          Efisiensi & produktivitas

-          Efisiensi energi

-          Pekerjaan & pendapatan

-          Akses, konektivitas & daya saing perdagangan

-          Pembangunan infrastruktur / kemacetan

  1. Sosial, yang terdiri dari:

-          Ekuitas & keadilan

-          Inklusivitas & nilai sosial

-          Keterlibatan komunitas

-          Kesehatan

-          Keamanan

-          Kondisi tenaga kerja

  1. Lingkungan, yang terdiri dari:

-          Polusi laut, udara, dan tanah

-          Kebisingan, getaran & keanekaragaman hayati

-          Emisi udara / GRK

-          Dampak / ketahanan perubahan iklim

-          Penipisan sumber daya

-          Penggunaan lahan

Beberapa permasalahan yang terjadi dalam Pendidikan sains:

  1. Pendidikan sains tidak memberikan pandangan yang akurat dan jujur ​​kepada siswa tentang bagaimana sains dipraktikkan dalam masyarakat, penelitian dan pengembangan ilmiah, serta bagaimana sains dikaitkan dengan budaya dan agama.

→ Potensi budaya Indonesia yang mengandung nilai-nilai religius dalam menghadirkan SESD yang mendorong rasa nasionalisme

  1. Pendidikan sains tampaknya tidak memadai untuk kebutuhan siswa sebagai warga negara dalam masyarakat demokratis modern kita, yang seharusnya mengarah pada apa yang umumnya dianggap sebagai "literasi ilmiah".

→ Desain pemaduan nilai-nilai agama, kekayaan budaya bangsa Indonesia, dan perspektif berbagai dimensi melalui SESD, serta bagaimana mengimplementasikan desain tersebut.

Potensi Warisan Budaya Indonesia Menyampaikan Nilai Religi → SESD

1)      Pendekatan ilmu pengetahuan melalui pendidikan tradisional

2)      Pendekatan 'pendidikan melalui sains'

3)      Literasi ilmiah dan teknologi multidimensi yang didalamnya terdapat nilai agama dan budaya Indonesia

Nilai-Nilai Nasionalisme:

  1. Kebanggaan Bangsa Indonesia
  2. Menghargai jasa pahlawan
  3. Kecintaan tanah air
  4. Nasional Rasa bangga akan budaya yang beragam
  5. Bersedia berkorban
  6. Mengutamakan yang kepentingan umum
  7. Menerima kemajemukan

Contoh Pendidikan sains yang telah diterangkan sebelumnya:

Terdapat “Panglima Laot di Aceh”, “Sasi di Maluku” dan “Awig-awig di NTB dan Bali” yang merupakan upaya pengelolaan sumber daya alam air dengan memperhatikan aspek kelestarian. Hal tersebut juga dijelaskan dalam surat Ar-Rum 30:41 tentang “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Dan terdapat pula etnoekologi tentang pelestarian lingkungan.

ConReog di Ponorogo, Jawa Timur yang menceritkan Adipati Batorokatong yang beragama Islam juga memanfaatkan barongan ini untuk menyebarkan agama Islam.  Nama Singa Barongan kemudian diubah menjadi Reog, yang berasal dari kata Rlyoqun yang berarti khusnul khatimah yang berarti meskipun sepanjang hidupnya di udara, tetapi ketika akhirnya bertakwa dan bertaqwa kepada Tuhan

Tarian raksasa yang merupakan seni  pengelompokan meliputi ketua kelompok (warok).  penari raksasa (barongan), penari topeng (penari), penari kuda (jathil), penari klan, dan alat musik gamelan (gong, kethuk, terompet kayu, kandhang, dan kempul)

Suasana islami ditampilkan melalui adanya beberapa kata dalam bahasa arab yang  akhirnya menjadi bagian dari Reog.  Selain itu, kalung merjan (tasbih) ditambahkan pada paruh burung merak yang melambangkan ajaran Islam. 

Zoologi: Pengawetan Satwa Burung Merak dan Harimau Jawa dalam Tokoh Reog.

 

ü  Etno digunakan untuk menunjukkan konteks sosial budaya dalam konsep SESD.

ü  Awalan etno sebagai istilah yang sangat luas mengacu pada konteks sosial budaya

ü     Etnosains mencakup sejumlah disiplin ilmu yaitu etnobiologi. ethnochemistry, ethnophysics, ethnomathematics, ethnomedicine, dan teknologi pemrosesan dan pemprosesan pangan pertanian pribumi.  rangkaian tradisional.

Penerapan SESD:

1.      Tampil Budaya Indonesia dan Literasi Agama

Tuak adalah salah satu minuman tradisional yang sangat populer di kalangan suku Batak.  Namun dalam Islam, tuak merupakan salah satu bentuk minuman keras (khamr) yang tidak diperbolehkan untuk diminum karena minuman keras memiliki efek negatif jika dikonsumsi secara berlebihan.

2.      Pendekatan tekstual dan analisis masalah harga

Membaca dan menganalisis Penggunaan etanol sebagai bahan bakar dan potensi efek samping

3.      Memperjelas latar belakang ilmu

Struktur alkohol, fermentasi, serta permasalahan dan manfaat penggunaan alkohol sebagai bahan bakar pada mobil.

4.        Melanjutkan dimensi evaluasi yang berbeda

Refleksi bersama mengarah pada pemahaman bahwa latar belakang kimiawi mungkin cukup jelas. 

5.      Membahas dan mengevaluasi dengan dimensi ESD yang berbeda

Persiapan dan presentasi menjelaskan berbagai Diskusi dan argumentasi serta perspektif berbagai pemangku kepentingan dari evaluasi yang dilakukan oleh masyarakat.

6.      Meta-refleksi

Meta-refleksi dari debat menyoroti berbagai peran ilmuwan, kelompok penekan dan politisi, menjelaskan kompleksitas keputusan, dan juga menunjukkan bagaimana masyarakat menangani pengambilan keputusan.

Membahas dan merasakan dengan dimensi ESD yang berbeda:

Dasar-dasar ekologi / eksistensial, Teknologi / penggunaan sumber daya, Ekonomi / kata ekonomi, Manajemen rumah tangga / bisnis, Masyarakat / globalitas, Budaya / etika / agama, Politik / institusi, dan Sumber daya internal yang sehat

Pendidikan Sains Tetrahedral.

Pendidikan sains Tetrahedral dapat menjadi metafora yang tepat untuk menggambarkan apa yang kita hargai dalam pendidikan sains, menyoroti elemen manusia dengan menempatkan penekanan baru pada dua dimensi pembelajaran sains yaitu Jaringan kaya ekonomi, politik, lingkungan  , pertimbangan budaya, sosial, sejarah dan filosofis, terjalin ke dalam pemahaman kita tentang konsep sains dan Para pembelajar manusia.


Terrimakasih Banyak 😊

Semoga bermanfaat dan maaf jika masih banyak kekurangan 🙏


Cahyani Rizki Rahayu (1810710095)

Tadris IPA-C

Komentar